ENJ 2019: Memori Kemerdekaan ke-74 di Pulau Pisang

Aku tak bisa bohong dengan memori itu, aku mengingatnya dan menjadi sebuah semangat yang membara dalam diriku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku takut menaiki perahu nelayan, lantaran perahu itu overload, muatan melebihi kapasitas, karena barang bawaan kami dan jumlah tim kami. Awalnya aku berpikir untuk turun, dan menunggu perahu selanjutnya. Kuingat sebuah pesan, “Ayo, kita harus segera sampai sana, kita mau mengejar Upacara di Pulau Pisang, nanti kesiangan. Kalau memang takdir kita mati yaudah, mati aja”. Pesan itu membuatku berpikir, “Yahh… Kan gak lucu tenggelam di samudera, karena perahu yang overload. Gak keren amat. Huft… Ok lah, aku harus berani, demi Upacara hari kemerdekaan tanah airku yang ku cinta, aku berani. Tuhan sertai langkahku, aku percaya pada-Mu.”


Imajinasiku yang gak karuan membuat perjalanan keberangkatan kami terulur, tepat pukul 07.15 WIB, kami berangkat. Di sepanjang perjalanan, sungguh diamku terpaku tanpa kata, padahal aku adalah salah satu wanita pemberani di angkatan kami, tapi saat itu rasa takut menyelimutiku, ahahaha, jika mengingatnya aku ingin menertawai diriku. Aku ingat, ketika perjalanan kami disambut oleh senyum mentari pagi ditengah Samudera dengan diiring kawanan lumba-lumba yang berkejar-kejaran, kami sangat beruntung, karena tidak setiap moment perjalanan menjumpai lumba-lumba.

Dalam diamku aku berpikir, “Kenapa aku harus jauh-jauh kesini. Melewati samudera yang ombaknya cukup menjadi ‘primadona’, apakah keputusanku salah? Kenapa aku tidak merayakan Kemerdekan di rumah saja atau di kampus saja, pasti seru dan lebih aman, tidak membahayakan nyawaku disini?” pertanyaan itu terus ku simpan dalam hatiku.


Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi tujuan tempat pengabdian yaitu Pulau Pisang. Mataku terpesona melihat kecantikan panorama tempat ini. Untung saja kami tidak terlambat, ternyata upacara akan dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB, mengetahui hal tersebut kami segera bersiap-siap dan berangkat. Kami berjalan kaki bersama sambil terburu-buru ke lapangan yang berjarak ±1 Km dari home stay kami. Kedatangan kami, sontak membuat setiap mata yang berbaris dilapangan memandangi kami, mungkin pikir mereka, “Ini petugas dari mana ya?” ahaha, karena kami memakai seragam.


Sesampainya disana kami langsung membuat barisan dengan ketua barisan adalah koordinator kami. Beberapa menit kemudian,upacara dimulai. Masih ku simpan pertanyaan itu dalam hatiku, “Apakah keputusanku datang ke tempat ini benar?”. Terkaget ku dibuat menangis dalam hatiku, saat kulihat ada banyak yang menahan tawa dikala khidmatnya upacara. Ada banyak kesalahan dalam upacara itu, terutama dari petugas upacara, aku cukup tahu karena aku mantan Paskibraka. Aku menangis melihatnya, aku malu dengan diriku sendiri, kenapa sebelumnya aku tidak ada disana untuk membantu mereka, ampuni aku ya Tuhan. Sontak semuanya membuatku teringat pada moment ku ketika menjadi petugas Paskibraka dengan gerakan yang seragam, pakaian yang serasi, dan pandangan ribuan mata yang menatap pesona kami. Tetapi sekarang aku sangat malu, aku malu karena semangat mereka yang mengalahkan semangatku saat itu.


Peringatan kemerdekaan tidak melulu berbicara tentang kesempurnaan, tetapi tentang proses berbenah dari kesalahan yang ada, kepada perjalanan yang lebih baik lagi. Pernahkah kalian berpikir, bagaimana pelaksanaan kemerdekaan di pulau terluar Indonesia? Siapa yang mau berdiri untuk mereka? Siapa yang memperhatikan mereka? Kita malah terus terlena dengan kesenangan pribadi kita, hobby kita, atau kita terlalu berpikir bagaimana supaya saya terlihat keren dan banyak followers, atau kita terlalu banyak berpikir bagaimana si doi bisa segera menyatakan perasaannya?

Peringatan kemerdekaan ini meningalkan bekas dalam hatiku, yang menampar harga diriku, kalau selama ini aku terlalu banyak diam dan terlalu nyaman dengan setiap aktivitasku, aku terlalu bangga dengan pencapaianku, aku terlalu bangga dengan kehebatan opini ku, aku terlalu bangga dengan setiap mimpiku. Terkadang kita seperti katak dalam tempurung, kita berpikir bahwa dalam kehidupan kita, sudah ada banyak pengalaman dan kehebatan yang kita lakukan. Keegoisan kita menyelaputi mata hati kita. “Seberapa jauh anda menjalani kehidupan, tergantung pada sikap ramah anda pada orang-orang muda, belas kasihan terhadap orang-orang tua, simpati pada orang yang bekerja keras, dan sikap toleran pada yang lemah dan kuat.” (George Washington Carver). Standar kehebatan terlihat pada hasil dan dampak yang bisa kamu berikan kepada orang lain, berapa banyak kebaikan dan kebahagiaan yang kamu tabur?

“Aku tak dapat lagi menghitung bintang-bintang yang bertaburan di langit, tapi yang kutahu bintang itu mengubah gelapnya langit menjadi indah.”- (Mikha Selina)


Begitulah aku harus hidup sampai aku tak bisa lagi menghitung setiap kebaikan, keberhasilan dan prestasiku, kemudian efek nya adalah keindahan pada orang-orang disekitarku.


Tuhan mengajarkanku untuk melihat keluar, supaya aku lebih sungguh-sungguh lagi menghargai dan menghormati makna kemerdekaan ini. Aku jadi sadar, bukan saat nya lagi berdebat tentang perbedaan, bukan lagi saatnya untuk saling menghujat dan menyalahkan orang lain, bukan saatnya membenarkan diri sendiri, bukan lagi saatnya bersaing untuk menjatuhkan, tetapi saatnya kita mendekatkan saudara-saudara kita bahwa NKRI itu satu dan laut yang menjadi pemersatu kita .

Pernahkah anda berpikir kalau satu aksi kecil yang anda lakukan, sangat berarti bagi orang lain? Pernahkah anda berpikir kalau satu tindakan yang anda lakukan memberikan motivasi yang kuat bagi masa depan orang lain? Pernahkah anda berpikir respon yang benar bisa memulihkan semangat orang lain dari keterpurukan?

Mari kita sama-sama berpikir, bukan hanya menjadi pemikir, tetapi juga menjadi sang aksi yang tidak “kikir”.

Kini aku tahu, kenapa aku ada disini, keputusanku untuk datang ke ekspedisi ini bukanlah sebuah kesalahan. Karena kemurniaan hati mu akan terlihat dan teruji ketika kamu menerjunkan dan mencemplungkan dirimu dalam masyarakat yang “sesungguhnya”.

Inilah ceritaku bersama Ekspedisi Nusantara Jaya 2019
Salam Pulau Pisang!

Penulis: Mikha Selina Putri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here